Bahasa lain

Pertanyaan

Jelaskan secara singkat masuknya ilmu filsafat ke dalam dunia islam

1 Jawaban

  • Seiring dengan meluasnya wilayah pemerintahan Islam dan kecenderungan pelbagai kalangan kepada agama kehidupan ini, banyak pusat penelitian dunia masuk dalam wilayah Islam, sehingga berlangsung ekstensif interaksi pemikiran di antara para sarjana dan pertukaran karya ilmiah di antara pelbagai perpustakaan dunia dalam skala besar dan penerjemahan dari beragam bahasa (India, Persia, Yunani, Latin, Suryani, Ibrani, dan sebagainya) ke dalam bahasa Arab yang, secara de facto, telah menjadi bahasa internasional umat Islam. Inilah yang lantas mempercepat laju perkembangan filsafat, beragam sains dan bidang-bidang seni. Sekian banyak buku dari para filosof Yunani dan Aleksandria serta dari pusat-pusat bereputasi ilmu pengetahuan dialihkan ke bahasa Arab.

    Pada mulanya, ketiadaan bahasa bersama, ketakseragaman peristilahan teknis para penerjemah, dan inkoherensi antara asas-asas filsafat Timur dan Barat telah menyukarkan tugas pengajaran filsafat dan mempersulit agenda-agenda penelitian serta pemilihan asas-asas filsafat ini. Tetapi, tidak terlalu lama keadaan itu berlangsung hingga muncullah jenius-jenius seperti: Abu Nashr Al-Farabi (872-950) dan Ibn Sina (980-1037), yang mampu menyerap keseluruhan pemikiran filsafat zaman itu dengan kerja keras dan ketekunan tinggi. Dengan bakat alami, mereka yang tercerahkan oleh sinar wahyu dan penjelasan para Imam lalu melaksanakan penelitian dan pemilahan pemikiran filsafat, kemudian mempresentasikan sebuah sistem filsafat yang utuh. Selain memuat gagasan-gagasan Plato, Aristoteles, pemikiran Neo-Platonik dari Aleksandria, dan gagasan-gagasan para mistikus (‘urafā’) Timur, sistem ini juga memuat pemikiran-pemikiran baru dan, karena itu, berhasil menonjolkan keunggulannya di atas semua sistem filsafat Timur maupun Barat. Meskipun demikian, bagian terbesar dari sistem ini berasal dari Aristoteles, sehingga warna Aristotelian dan peripatetismenya pun cukup dominan.

    Selanjutnya, sistem filsafat ini bergilir hingga jadi sorotan kritis para pemikir sebesar Muhammad Ghazali (1058-1111), Abu Al-Barakat Baghdadi (1080-1164) dan Fakhr Al-Din Razi (1149-1209). Di sisi lain, dengan memanfaatkan karya-karya para filosof Iran Kuno dan membandingkannya dengan karya-karya Plato, kalangan Stoik dan Neo-Platonik, Syihab Al-Din Suhrawardi (1155-1191) mendirikan aliran filsafat baru yang dikenal dengan nama Hikmat Al-Isyrāq ‘Kebijaksanaan Pencerahan’ (Iluminationism), yang warna Platoniknya lebih pekat lagi. Dengan demikian, terbuka sebuah pangkalan baru bagi pergumulan, perkembangan dan pematangan ide-ide filosofis.

    Berabad-abad kemudian, filosof-filosof besar seperti: Khwajeh Nashiruddin Al-Thusi (1201-1274), Muhaqqiq Al-Dawwani (1427-1502), Sayyid Shadr Al-Din Al-Dasytaki (w. 1497), Syaikh Baha’i (1547-1621) dan Mir Muhammad Damad (w. 1631), berhasil memperkaya filsafat Islam dengan curahan gagasan cemerlang mereka. Sampai tiba peran Shadruddin Al-Syirazi (1572-1640), atau Mulla Sadra, memperkenalkan sistem filsafat baru dan unik yang, dengan kejeniusan dan inovasinya, menggabungkan elemen-elemen komplementer dalam filsafat Masyya’iyah (Peripatetisme), filsafat Isyraqiyah (Pencerahan) dan penyingkapan-penyingkapan hati (‘irfānī) arif-sufi, di samping beragam ide yang mendalam serta gagasan yang bernilai. Ia menyebut sistemnya dengan Al-Hikmat Al-Muta‘āliyah ‘Kebijaksanaan Utama’.

Pertanyaan Lainnya