ringkasan kerajaan di Sulawesi kerajaan wajo
Sejarah
dedekcantk
Pertanyaan
ringkasan kerajaan di Sulawesi kerajaan wajo
2 Jawaban
-
1. Jawaban widian18
Ada dua tradisi sejarah terbentuknya kerajaan Wajo. Pertama versi tutur,yang disebut sebagaiPau-Pau ri Kadong. Dan versi kedua yaitu versi tulis. Yaitu versilontaraantara lain,Lontara Sukkuna Wajo, Lontara Attoriolong ri Wajo, Lontara Akkarungeng ri Wajo dan Kroniek Van Wadjo,yang merupakan hasil transkripsi J. Noorduyn pada salah satu naskah kronik Wajo lainnya.Pau-Pau ri Kadong secara singkat bercerita tentang seorang putri Luwu yang sakit kulit, yakniWe Tadampali. Atas masukan dari Hadat Luwu dankebaikanrakyat Luwu,beliau dihanyutkan bersama pengikutnya agar tidak menjangkiti orang Luwu.Ketika terdampar, beliau membuat pemukiman. Hingga suatu saat, beliau dijilat oleh kerbau belang hingga sembuh. Di saat bersamaan, seorang pangeran dariBonebeserta rombongannya yang sedang berburu, singgah beristirahat. Kebetulan, sang pangeran beserta rombongannya. Sang pangeran kaget melihat ada perkampungan kecil ditempat tersebut.Ketika mendatangi rumah besar (rumah We Tadampali) sang pangeran pun kaget hingga pingsan melihat kecantikanWe Tadampali.Pulang ke Bone, sang Pangeran meminta pada ayahandanya sang Raja agar segera dinikahkan. Singkatkata, lamaran pun diajukan ke Luwu dan diterima. Sang Pangeran Bone besertaWe Tadampalihidup bahagia dan melahirkan putra-putra yang kelak menjadi paddanreng yang mendirikan Wajo.Sedang versi kronik secara umum menggambarkan sebagai berikut. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya di jazirah selatanSulawesi, Wajo tidak memulai dengan kondisi chaos. Namun kondisi damai, dimana para migran dari berbagai arah datang berkumpul disebuah pesisir danau yang kelak disebut Lampulung. Disebut Lampulung sebab berasal dari bahasa Bugis Sipulung yang berarti berkumpul. Ditempat itu ada seorang tua yang tidak diketahui nama aslinya yang digelari Puang riLampulung. Komunitas Lampulung ini membentuk beberapa perkampungan seperti Saebawi.SepeninggalPuang ri Lampulung, masyarakat Lampulung bubar. Hingga menemukan seorangtokohyang sama seperti Puang ri Lampulung seperti kemampuan meramal dan teknik pengelolaan pertanian yang digelari Puang ri Timpengeng. Akhirnya terbentuk komunitas baru di Boli.Masyarakat Boli sebagaimana masyarakat Lampulung hidup aman, tertib dan sejahtera hinggaPuang ri Timpengeng wafat. Masyarakat Boli pun kehilangan pegangan. Kehidupan bermasyarakat mulai tidak tertib, berlaku hukum rimba. Hingga akhirnya, datanglah La Paukke, seorang pangeran kedatuan Cina/Mampu. La Paukke mendirikan kerajaan yang disebut Cinnotabi.Pelan tapi pasti, kerajaan Cinnotabi mulai berkembang. La Paukke Arung Cinnotabi I digantikan oleh putrinya,WePanangngarengsebagai Arung Cinnotabi II. Kejayaan Cinnotabi di era Arung CinnotabiIII, We Tenrisui putriWePanangngareng. Beliau digantikan putranya, La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV.Setelah La Patiroi wafat, adat Cinnotabi mengangkat kedua putranya yaitu La Tenribali dan La Tenritippe sebagai Arung Cinnotabi V. Namun, dua pemimpin akan menyebabkan ketidakstabilan dalam pemerintahan. Disebutkan bahwa,La Tenritippekurang adil dalam memutus perkara. Sehingga pejabat adat Cinnotabi beserta rakyatnya meninggalkan Cinnotabi dan berkampung di Boli.Ketiga bersepupu, La Tenritau menyebut daerahnya Majauleng.La Tenripekkamenyebut daerahnya Sabbamparu. Sedang La Matareng menyebut daerahnya Takkalalla. Ketiga daerahinimenyebut dirinyaTelluE Turungeng Lakka. Kemudian berubah menjadiLipu Tellu KajuruE. Lipu Tellu KajuruE kemudian melamar La Tenribali yang sebelumnya mendirikan kerajaan Penrang untuk menjadi raja Wajo.Melalui sebuah perjanjian,Assijancingengnge ri Majauleng, maka didirikanlah kerajaan Wajo. Disebut Wajo sebab perjanjian tersebut diadakan dibawah bayang-bayang=wajo-wajo pohon Bajo. La Tenribali digelari Batara Wajo.Sepeninggal La Tenribali, maka putranya yaitu La Mataesso diangkat menjadi Batara Wajo II. KemudianLa Pateddungi to Samallangidiangkat menjadi Batara Wajo III. Di zaman Batara Wajo III, sang Raja melakukan banyak kesewenang-wenangan. Hingga setelah berbagai masukan dari rakyat Wajo,I La Tiringeng to Tabamemperingati Batara Wajo III. Namun sampai berkali-kali diperingati, La Pateddungi selalu mengulang kesalahannya. Akhirnya, ia diturunkan dari takhtanya dan dibunuh di sebuah tempatluarWajo saat itu yang disebut sebagai La Marakko. -
2. Jawaban anisazakiatul
Kerajaan Wajo adalah sebuah kerajaan yang didirikan sekitar tahun 1399, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut "Raja Wajo". Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu Cinnotabi.
putra mahkota kedatuan Cina dan kerajaan Mampu, yaitu La Paukke datang dan mendirikan kerajaan Cinnotabi. Adapun urutan Arung Cinnotabi yaitu, La Paukke Arung Cinnotabi I yang diganti oleh anaknya We Panangngareng Arung Cinnotabi II. We Tenrisui, putrinya menjadi Arung Cinnotabi III yang diganti oleh putranya La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV. Sepeninggal La Patiroi, Adat Cinnotabi mengangkat La Tenribali dan La Tenritippe sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V. Setelah itu, Akkarungeng (kerajaan) Cinnotabi bubar. Warga dan adatnya berkumpul di Boli dan membentuk komunitas baru lagi yang disebut Lipu Tellu KajuruE.
La Tenritau menguasai wilayah majauleng, La Tenripekka menguasai wilayah sabbamparu dan La Matareng menguasai wilayah takkalalla. Ketiganya adalah sepupu satu kali La Tenribali. La Tenribali sendiri setelah kekosongan Cinnotabi membentuk kerajaan baru disebut Akkarungeng ri Penrang dan menjadi Arung Penrang pertama. Ketiga sepupunya kemudian meminta La Tenribali agar bersedia menjadi raja mereka. Melalui perjanjian Assijancingeng ri Majauleng maka dibentuklah kerajaan Wajo. La Tenribali diangkat sebagai raja pertama bergelar Batara Wajo. Ketiga sepupunya bergelar Paddanreng yang menguasai wilayah distrik yang disebut Limpo. La Tenritau menjadi Paddanreng ri Majauleng, yang kemudian berubah menjadi Paddanreng Bettempola pertama. La Tenripekka menjadi Paddanreng Sabbamparu yang kemudian menjadi Paddanreng Talotenreng. Terakhir La Matareng menjadi Paddanreng ri Takkallala menjadi Paddanreng Tuwa.
Wajo sebagai Kerajaan
Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional. Masa keemasan Wajo adalah pada pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellumpoccoe sebagai saudara tengah bersama Bone sebagai saudara tua danSoppeng sebagai saudara bungsu.
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal di sana. Wajo terlibat Perang Makassar (1660-1669) disebabkan karena persoalan geopolitik di dataran tengah Sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin. Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani perjanjian Bungaya, sehingga Wajo diserang oleh pasukan gabungan setelah terlebih dahulu Lamuru yang juga berpihak ke Sultan Hasanuddin juga diserang. Kekalahan Wajo menyebabkan banyak masyarakatnya pergi meninggalkan Wajo dan membangun komunitas sosial ekonomi di daerah rantauannya. La Mohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Wajo yang tidak terima kekalahan merantau ke Kutai dan membuka lahan yang kini dikenal sebagaiSamarinda.